KONSELING PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS DAN PENYALAHGUNAAN NAPZA

OLEH : Muchamad Badroni
NIM : 1511001072
DOSEN PEMBIMBING : Supriliyah P, S.Kep, M.Kep

APAKAH KONSELING HIV/AIDS ?

Konseling HIV/AIDS bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV/AIDS. Proses konseling termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes (+)

Konseling pencegahan dan perubahan perilaku guna mencegah penularan. Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak – psikologik, sosial, fisik dan spiritual HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.
Adapun proses konseling adalah sebagai berikut :
Tahap pertama : Dimulai dari membina hubungan baik dan membina kepercayaan , dengan menjaga rahasia dan mendiskusikan keterbatasan rahasia, melakukan ventilasi permasalahan, mendorong ekspresi perasaan, diutamakan dapat menggali masalah, terus mendorong klien menceritakannya.
Upayakan dapat memperjelas harapan klien dengan mendeskripsikan apa yang konselor dapat lakukan dan cara kerja mereka serta memberi pernyataan jelas bahwasanya komitmen konselor akan bekerja bersama dengan klien
Tahap kedua : Mendefinisikan dan pengertian peran, memberikan batasan dan kebutuhan untuk mengungkapkan peran dan batasan hubungan konseling, mulai dengan memaparkan dan memperjelas tujuan dan kebutuhan klien, menyusun prioritas tujuan dan kebutuhan klien, mengambil riwayat rinci – menceritakan hal spesifik secara rinci , menggali keyakinan, pengetahuan dan keprihatinan klien
Tahap ketiga : Proses dukungan konseling lanjutan yakni dengan meneruskan ekspresi perasaan / pikiran , mengidentifikasi opsi, mengidentifikasi ketrampilan, penyesuaian diri yang telah ada, mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut, mengevaluasi opsi dan implikasinya, memungkinkan perubahan perilaku, mendukung dan menjaga kerjasama dalam masalah klien, monitoring perbaikan tujuan yang terindentifikasi , rujukan yang sesuai
Tahap empat : Untuk menutup atau mengakhiri hubungan konselin . Disarankan kepada klien dapat bertindak sesuai rencana klien menata dan menyesuaiakan diri dengan fungsi sehari-hari, bangun eksistensi sistem dukungan dan dukungan yang diakses, lalu mengidentifikasi strategi untuk memelihara hal yang sudah beruhah baik .

Untuk pengungkapan diri harus didiskusikan dan direncanakan, atur interval parjanjian diperpanjang, disertai pengenalan dan pengaksesan sumber daya dan rujukan yang tersedia, lalu pastikan bahwa ketika ia membutuhkan para konselor senantiasa bersedia membantu.
Menutup atau mengakhiri konseling dengan mengatur penutupan dengan diskusi dan rencana selanjutnya, bisa saja dengan membuat perjanjian pertemuan yang makin lama makin panjang intervalnya.

Senantiasa menyediakan sumber dan rujukan yang telah dikenali dan dapat diakses – memastikan klien dapat mengakses konselor jika ia memilih untuk kembali ketika membutuhkan
Tujuan Konseling HIV/AIDS
Konseling HIV/AIDS merupakan proses dengan 3 (tiga) tujuan umum : 
1. Dukungan psikologik misalnya dukungan emosi, psikologi sosial, spiritual sehingga rasa                      sejahtera terbangun pada odha dan yang terinfeksi virus lainnya .
2. Pencegahan penularan HIV/AIDS melalui informasi tentang perilaku berisiko (seperti seks tak            aman atau penggunaan alat suntik bersama ) dan membantu orang untuk membangun ketrampilan      pribadi yang penting untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman.
3. Memastikan terapi efektif dengan penyelesaian masalah dan isu kepatuhan

Cara untuk mencapai tujuan
Mengajak klien mengenali perasaannya dan mengungkapkannya , menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindak lanjut yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, mendorong perubahan perilaku, memberikan informasi pencegahan, terapi dan perawatan HIV/AIDS terkini, memberikan informasi tentang institusi ( pemerintah dan non pemerintah ) yang dapat membantu dibidang sosial, ekonomi dan budaya , membantu orang untuk kontak dengan institusi diatas.
Membantu klien mendapatkan dukungan dari system jejaring social, kawan dan keluarga membantu klien melakukan penyesuaian dengan rasa duka dan kehilangan , melakukan peran advokasi – misal membantu melawan diskriminasi, membantu individu mewaspadai hak hukumnya, membantu klien memelihara diri sepanjang hidupnya, membantu klien menentukan arti hidupnya.
Selain isu yang berkaitan langsung dengan HIV/AIDS, klien dapat menyajikan : Serangkaian isu tentang keadaan tidak langsung berkaitan dengan HIV kebutuhan terapi spesifik misalnya : disfungsi seksual, serangan panik isu terdahulu yang belum terselesaikan, misalnya: isu seksual, ketergantungan napza, masalah keluarga dll.

NAPZA
Penyalahgunaan NAPZA. Kita akan sedikit mengulas apa itu Narkoba, Psikotropika, dan Zat Aditif  Lainnya (NAPZA). Menurut Smith Kline dan Frenc Clinical, NAPZA adalah zat-zat atau obat yang dapat mengakibatkan ketidaksadaran atau pembiusan dikarenakan zat-zat tersebut bekerja dengan mempengaruhi susunan saraf sentral. NAPZA bukan suatu barang yang tidak boleh untuk dikonsumsi. NAPZA diperbolehkan untuk dikonsumsi asalkan penggunaannya mengikuti aturan yang tepat dan benar yang bertujuan sebagai pengobatan dan penelitian. Tetapi, yang menjadi permasalahan disini adalah penggunaan NAPZA yang tujuanya bukan sebagai pengobatan atau penelitian dan dalam penggunaannya tidak mengikuti aturan yang tepat dan benar, alhasil kejadian ini dinamakan penyalahgunaan NAPZA.

Risiko dari pengaruh penyalahgunaan NAPZA adalah faktor keluarga. Bukan hal yang asing lagi, apabila penyalahgunaan NAPZA diakibatkan oleh faktor keluarga penderita itu sendiri. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama bagi individu. Di dalam keluarga seorang anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan orang lain. Keluarga merupakan pembentuk pribadi bagi seseorang, sehingga orang tua dan anggota keluarga menjadi contoh dan bahan belajar dalam membentuk pribadi anak. Ketika anak mencapai masa remaja perilaku yang diharapkan pada remaja adalah perilaku tidak merokok, tidak minum-minuman beralkohol, mematuhi norma/aturan, tidak memberontak dan disiplin dalam keuarga dan masyarakat (Willis, 2005).

Berbagai trend dan issue penyalahgunaan narkoba, psikotropika, dan zat aditif lainnya sudah menjalar di telinga masyarakat. Pada penelitian (Browning & Loeber, dalam Brank, Lane, Turner, Fain, dan Sehgal, 2008) ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja; perilaku orang tua dan hubungan orang tua-anak. Salah satu perilaku orang tua, pemantauan orang tua, telah menjadi fokus dari banyak proyek-proyek penelitian. Remaja merupakan masa pencarian identitas diri, oleh karena itu diharapkan keluarga selalu memberikan dampak postif yang baik untuk perkembangan masa remaja. Remaja memiliki kecenderungan untuk mencontoh dan ingin memberikan kesan bahwa remaja sudah hampir dewasa. Remaja selalu ingin mendekatkan diri pada perubahan sikap dan perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum- minuman keras, menggunakan obat- obatan dan masuk dalam perbuatan yang melangar norma untuk memberikan norma yang diinginkan (Hurlock, 1999).

Banyak penelitian menunjukkan bahwa sikap keluarga memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan remaja dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA. Penelitian Rutter menunjukan bahwa hubungan kedua orang tua yang tidak harmonis turut mendorong anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Tidak hanya alasan keluarga yang tidak harmonis yang menjadikan penyebab seorang remaja menyalahgunakan NAPZA, kurangnya komunikasi, kurangnya keterbukaan, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, terlalu memanjakan anaknya, orang tua terlalu sibuk mencari nafkah, kurangnya perhatian, kehangatan, kasih sayang terhadap anak-anaknya dan bisa juga dikarenakan karena kedua orang tua sebagai pemakai.

Upaya untuk mengubah sikap keluarga terhadap remaja dengan penyalahgunaan NAPZA tentunya dengan memperbaiki pola asuh orang tua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah. Bentuk dukungan, upaya, pengawasan, dan cara dalam mendidik diharapkan dapat menghindarkan anak-anaknya dari kenakalan remaja. Tidak hanya itu, adanya beberapa cara dalam mengawasi dan mendidik anaknya tentunya dengan memberikan alternatif kegiatan positif, memerhatikan lingkungan pergaulan anak agar tidak terjermus pada hal-hal yang merusak (destruktif).

Komentar

  1. Casino Games Finder (USA) - Mapyro
    Find Casinos 수원 출장샵 Near You (usa) with Mapyro and 속초 출장안마 other local real-time casino 서귀포 출장안마 games. Find Address, Map, 광명 출장안마 Map, 계룡 출장샵 Track Record, Nearby Places

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasien Berdaya